Senin, 16 April 2012

[Koran-Digital] Dahlan Iskan - Benang kusut KBI yang sudah kelihatan ujungnya

Benang kusut KBI yang sudah kelihatan ujungnya

Minggu, 15 April 2012 23:01 WIB | 2046 Views

Dahlan Iskan (*)


Jakarta (ANTARA News) - Ada satu BUMN yang sebenarnya penting tapi
bernama PT KBI: Kliring Berjangka Indonesia.

Bukan karena namanya itu yang salah tapi memang sejak mendapatkan izin
operasional sebagai lembaga kliring berjangka lebih 10 tahun lalu, belum
bisa menjalankan fungsinya.

Tugasnya sebenarnya mulia tapi memang berkelok-kelok jalannya. Misinya
jelas, tapi kabur dalam pelaksanaannya.

KBI seharusnya mengurus "integritas perdagangan berjangka, pasar fisik
komoditas, dan integritas informasi sistem resi gudang" tapi sampai hari
ini baru 1 persen pelaksanaannya.

Sebenarnya kalau KBI sukses sungguh bisa ikut memajukan pertanian dan
perkebunan kita. Petani kita tentu juga ikut menikmati. Kita pun tidak
akan ketinggalan lagi. Semua negara maju menyelenggarakan perdagangan
komoditi berjangka. Kita yang masih belum.

Dengan perdagangan komoditi berjangka ini fluktuasi harga produk
pertanian bisa dicegah. Keluhan harga-harga hasil pertanian seperti
jagung dan beras yang anjlok di musim panen bisa teratasi. Lalu-lintas
fisik hasil pertanian juga tidak terlalu besar. Yang akan lebih
mondar-mandir adalah angka-angka.

Yang lebih penting lagi, hasil-hasil pertanian itu sudah bisa
dimonetisasi tidak lama setelah panen terjadi. Volume perdagangan kita
menjadi melonjak. Perhitungan terhadap GDP juga bisa berubah.

Memang tidak gampang membuat sistem perdagangan komoditi ini berjalan.
Direksi KBI sudah beberapa kali berganti tapi jalan juga belum bisa
ditemukan. Ide begitu banyak di masa lalu tapi semuanya kuldesak.

Ada benang kusut yang harus diurai. Hari Minggu akhir Maret lalu diskusi
benang kusut itu diadakan di ruang kerja saya di lantai 19 Kementerian
BUMN. Hasilnya: kekusutan itu belum akan bisa diurai, tapi sudah
kelihatan dari mana mulai menguraikannya.

Pertanyaan menggoda dalam diskusi itu: bagaimana KBI, sebagai
perusahaan, bisa hidup lebih 10 tahun di tengah-tengah benang kusut
seperti itu? Rupanya naluri manusia di mana-mana sama: harus bisa hidup.

Seperti apa pun keadaannya. Bagaimana pun caranya. Seberat apa pun
kondisinya. Segersang apa pun lahannya. Naluri survival manusia inilah
memang modal utama kehidupan.

Tidak terkecuali manusia Surdiyanto Suryodarmodjo yang kini menjabat
Direktur Utama PT KBI itu. Sus, begitu panggilannya, sebenarnya sudah
berusaha menghidup-hidupkan perdagangan komoditi berjangka. Berbagai
cara dia lakukan. Berbagai upaya dia tempuh.

Tapi karena syarat-syarat hidupnya perdagangan komoditi berjangka itu
banyak, tidak mudah menyatukannya. Bayangkan ada 11 lembaga di luar KBI
yang juga harus berjalan kalau mau KBI bisa berfungsi.

Perdagangan komoditi berjangka bisa berjalan baik manakala 12 lembaga
ini bergerak bersama dalam satu irama. Ibarat sebuah mobil harus ada
setirnya, gasnya, remnya, mesinnya, speedo meter-nya, gardannya,
rodanya, dan jalan rayanya. Juga sopirnya dan bahan bakarnya. KBI
hanyalah salah satu dari bagian itu.

Dalam sebuah sistem perdagangan berjangka, harus ada lembaga kliring,
asuransi, bank penyelesaian, penjamin, penerbit sertifikat, penjaga
mutu, pengelola gudang, sistem informasi real time, stand by seller,
stand by buyer, dan harus ada BAPPEBTI (seperti BAPEPAM-nya pasar
modal). Tentu harus ada penjual dan pembeli utama. Yakni mereka yang mau
mengikatkan diri menjadi anggota KBI sekaligus anggota pasar fisik
komoditas.

Persoalannya: bagaimana merangkai semua itu dalam satu proses. Salah
satu saja tidak berfungsi, bubarlah sistem ini. Tidak berjalannya konsep
resi gudang sebagai sarana untuk menolong petani beras kita, misalnya,
antara lain karena memang secara keseluruhan system perdagangan komoditi
berjangka ini belum berjalan.

Kalau Sus menunggu bersatunya 12 lembaga itu, bisa-bisa PT KBI mati
duluan. Agar perusahaan terus hidup dan karyawannya bisa tetap
memperoleh gaji, untuk sementara KBI menjalankan bisnis sampingan:
perdagangan saham. Hasil main samping ini ternyata sangat lumayan.

Bisa-bisa PT KBI keasyikan main samping dan lupa permainan yang menjadi
pokok tugasnya. Main-main ini bisa menghasilkan omset Rp 60 miliar/tahun
dengan laba Rp 40 miliar.

Di satu pihak saya tentu sangat memuji naluri survival direksi KBI ini.
Terima kasih Pak Sus! Anda pahlawan perusahaan dan pahlawan untuk
karyawan-karyawan Anda! Di lain pihak tentu saya prihatin karena 99%
aktivitas KBI masih di luar tugas pokoknya.

Yang juga menyenangkan adalah Sus masih terus kelihatan gelisah. Dia
masih berpikir waras: kalau cara main samping ini diterus-teruskan,
lantas apa bedanya KBI dengan perusahaan sekuritas. Dia juga gelisah:
kapan KBI bisa berfungsi sesuai dengan bidang usahanya yang mulia itu.

Kesimpulan diskusi di hari Minggu itu sudah tepat: KBI tidak mungkin
jalan tanpa pembenahan di bagian hulunya dulu. Hulunya yang harus
disiapkan. Maka saya putuskan BUMN harus serius bergerak membenahi
hulunya. Biarkan KBI tidak berjalan dulu. Biarkan KBI meneruskan
permainan sampingnya dulu.

Dalam satu tahun ke depan pembenahan hulu harus selesai. Agar tidak
banyak masalah, biarlah BUMN-BUMN pangan yang menyiapkan hulunya itu.
Pelan-pelan, kalau pasar sudah terbiasa, swasta pasti ikut dengan sistem
modern ini. Tiga program besar BUMN di bidang pangan, bisa sekaligus
dijadikan hulu sistem perdagangan komoditi berjangka.

Program ProBeras BUMN harus sukses dulu. Demikian juga program Yarnen
(bayar utang benih/pupuk BUMN saat panen), dan program perkebunan padi
(pencetakan sawah baru) juga harus berhasil.

Jaringan mereka inilah nanti (termasuk pabrik-pabrik penggilingan beras)
yang akan menjadi anggota KBI, sekaligus menjadi anggota pasar fisik
komoditi.Kalau BUMN pangan calon-calon anggota KBI ini sudah eksis dan
tertata, baru kita melangkah ke yang lebih hilir: pergudangan. Tanpa
sistem pergudangan yang baik, tidak mungkin sistem perdagangan komoditi
berjangka ini berjalan.

Semua komoditi harus masuk gudang. Bukan gudang biasa, tapi gudang
bersertifikat. Sekarang ini, jangankan gudang bersertifikat, berapa
potensi gudang yang tersedia saja masih belum terkoordinasi. Pergudangan
kita harus jadi kekuatan ekonomi yang penting.

Senin lalu saya perlukan berkunjung ke Kalibaru Timur. Di situlah PT BGR
(Bhanda Ghara Reksa) berkantor. Inilah BUMN yang bergerak di bidang
pergudangan. BGR memiliki gudang sendiri sebanyak 160 buah, tapi seluruh
gudang yang dikelolanya sebanyak 615 buah.

Ini belum cukup. Gudang-gudang milik BUMN lain harus dalam satu
koordinasi. Misalnya gudang milik Bulog, gudang milik Pertani, dan
gudang milik Pusri. Bahkan gudang-gudang milik pemerintah, seperti milik
Kementerian Perdagangan, juga harus tergabung dalam sistem pergudangan
nasional.

Kalau tahun ini sektor hulu sudah selesai ditata, giliran tahun depan
sektor pergudangan menjadi fokus kita. Sertifikasi gudang harus diurus
mulai tahun ini, agar tahun depan bisa mengikuti pola pergudangan yang
sudah dipelopori PT BGR. Menurut Dirut PT BGR, Mulyanto, perbankan kita
sudah mulai mengakui pentingnya peranan gudang bersertifikat dalam
sistem pembiayaan nasional.

"Barang yang ada di gudang bersertifikat sudah bisa diagunkan. Kami
tinggal mengeluarkan bukti simpan. Bukti simpan ini sudah menjadi surat
berharga," kata Mulyanto.

Karena harus ada dua lini di hulu dan di tengah yang harus dikerjakan
dengan serius dan tekun, rasanya sistem perdagangan komoditi berjangka
baru bisa dikembangkan di tahun ketiga: 2014. Bersamaan dikembangkannya
sistem resi gudang. Kita memang tidak sabar.

Tapi tanpa ketelatenan membenahi hulunya, sampai kapan pun sistem
perdagangan komoditi tidak akan terwujud.

Jalan masih panjang, lorong-lorongnya berkelok-kelok, godaannya begitu
banyak, tapi kalau langkah sudah diayunkan, tujuan akan tercapai.

Kecuali ada interpelasi.

(Dahlan Iskan adalah Menteri BUMN)

http://www.antaranews.com/berita/306279/benang-kusut-kbi-yang-sudah-kelihatan-ujungnya

Komentar Pembaca
abdul
bongkar kebusukan PT. KBI , bappebti dan BBJ yg selama ini cuman
ngurusin transaksi OTC , sudah banyak korban dari masyarakat


--
"One Touch In BOX"

To post : koran-digital@googlegroups.com
Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
- Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
- Hindari ONE-LINER
- POTONG EKOR EMAIL
- DILARANG SARA
- Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
"Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan." -- Otto Von Bismarck.
"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.